cerita ini hanyalah fiktif belaka yang dikarang oleh Annisa Syamsi

#

       Namaku Rima yang artinya anak yang berbahagia. Jangan bertanya dari bahasa atau negara mana juga tentang apa arti dari sebuah namaku, karena jika kamu tanya begitu maka jawabanku adalah dari kamus ibu dan ayahku. Ya ibuku yang mengartikan demikian dan aku berharap sebagai sebuah doa dalam kehidupanku. Yang kemudian di Amini ayahku. Oke jadi jangan bertanya-tanya lagi ya!

 

 

       Aku lahir di kota kecil, 20 Oktober 1995. Aku lahir seperti kalian, yang tercipta di dalam rahim Ibuku bernama Nuri dan Ayahku bernama Rama. Apa kalian berpikiran sama? Ya… Rima adalah gabungan dari kedua nama orangtuaku. Ri dari Nuri dan Ma dari Rama yang kemudian menjadi sebuah nama yang menurutku indah yaitu Rima. 

 

 

       Kalian tahu, seperti hal nya sepasang kekasih yang dimabuk asmara. Lahirlah aku dari sebuah kasih dan sayang dua insan manusia. Jangan tanyakan aku bagaimana prosesnya, belajarlah biologi maka kalian akan paham. Aku tidak serta merta lahir tiba-tiba dan keluar dari batu layaknya Kera Sakti. Oke maaf, lupakan soal itu. Karena aku tidak ingin membuat cerita Drama komedi disini. Namun aku ingin menceritakan sebuah cerita drama kepada kalian, drama percintaan atau sebuah balada yang menguras air mata. hehe kalau saja itu berhasil.. ..

 

 

##

       Ibuku menikah muda diusianya ke 19 tahun dan ayahku di usia 21 tahun. Mereka adalah kakak dan adik kelas di Universitas ternama di kota kecil itu. Kala itu ibuku mengenal ayahku, seperti halnya di film romansa. Ayahku adalah anggota perkumpulan mahasiswa atau dalam istilah lain adalah BEM, dimana saat itu ibuku menjadi mahasiswa baru di prodi Psikologi dan ayahku salah satu senior yang meng-ospeknya. Jangan tanya aku bagaimana mereka mulai jatuh cinta. Karena kalau kalian mendengar kedua cerita dari mereka. 100% cerita dari keduanya akan berbeda.

 

 

       Ibuku bilang ayahku yang mengejarnya. Sementara Ayahku bilang Ibuku yang menggodanya. Hahahaha tidak usah mencari siapa yang ada duluan di dunia ini “apakah telur ataukah ayam duluan?” . Intinya mereka akhirnya memantapkan hati untuk menikah diusia ibuku yang ke 19 tanpa restu Nenek dan Kakek.

Ya tanpa restu….

 

 

       Mereka memutuskan kawin lari, aku lahir dari rahim ibuku yang belum syah sebagai istrinya. Dan ayahku memilih bertanggung jawab atas perbuatannya. Namun pertanggung jawabannya itu tidak lantas disambut baik oleh orangtua ibuku. Kedua orang tua ku hanyalah berstatus mahasiswa, ayahku bahkan belum lulus kala itu. Apa menurut kalian ada orangtua yang akan menyambut niatan baik dari seorang laki-laki yang menghamili anak gadis kesayangannya ? Jangan bodoh…Karena bagi Nenek dan Kakekku, aku adalah aib. 

 

 ####bersambung

“Aku memang lahir dari sebuah kesalahan, namun apakah kehadiranku juga merupakan sebuah kesalahan?”